Program Bantuan Jepang Bagi Reformasi Polri

  1. Pengenalan Kegiatan Program pada Perayaan Peringatan 50 Tahun Persahabatan Indonesia – Jepang.

      Pada tanggal 20 Januari 2008, bertempat di Taman Mini–Jakarta Timur, diperingati acara 50 tahun Persahabatan Indonesia–Jepang, peringatan ini dilaksanakan untuk menguatkan hubungan Indonesia–Jepang, dan dihadiri oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono; sebagai tamu kehormatan, Pangeran Akishino dan istri; Ketua Kerjasama Indonesia-Jepang, Bp. Ginanjar Kartasasmita; Ketua Panitia Pelaksana Peringatan, Bp. Rahmat Gobel; Dubes Jepang untuk Indonesia, Mr. EBIHARA Shin; Anggota Kabinet Perekonomian; dan juga dihadiri oleh warga negara Jepang yang sedang berada di Jakarta.

      Sebelum sambutan dari Presiden RI dan Pangeran Akishino, ditayangkan terlebih dahulu film mengenai perjalanan 50 tahun persahabatan Indonesia – Jepang. Dalam film tersebut, ditayangkan mengenai peristiwa-peristiwa penting yang melatarbelakangi sejarah kedua negara, Jepang memberikan bantuan untuk kemajuan perekonomian Indonesia. Khususnya, dalam pengenalan program bantuan pembangunan pemerintah (ODA=Official Development Assistance), sebagai contoh ditampilkan sebanyak 4 (empat) adegan mengenai Program Bantuan bagi Reformasi Polri. Hal ini merupakan suatu kehormatan bagi Program Bantuan Reformasi Polri, karena dipilih sebagai contoh dari begitu banyaknya program bantuan kerjasama bagi Indonesia di bidang yang lainnya.

  1. Pelaksanaan Working Group (Pokja) JICA-Polri ke-55

Pada tanggal 18 Januari 2008, dilaksanakan Pokja ke-55 (lima puluh lima). Pada Pokja kali ini dilaporkan mengenai:

  •  Kondisi kemajuan Proyek (terutama mengenai pengenalan buku Manual BKPM) oleh Pimpinan Proyek Bekasi, Bpk. Tanaka.
  • Laporan keadaan kegiatan Polmas di beberapa daerah di Indonesia oleh Bp. SUZUKI.
  • Laporan mengenai manfaat sinergi Program oleh Program Coordinator, Bp. Anzai.
  • Laporan kondisi terkini kegiatan Proyek oleh Kapolres Metro Bekasi (anggota ISI) dan Kapolres Bekasi (anggota ISI)

Bp. Tanaka menjelaskan bahwa buku manual ini berisi tentang cara-cara pelaksanaan dan hal-hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan kegiatan Polmas, seperti hal-hal dasar yang harus diperhatikan dan hasil kegiatan sehari-hari yang harus dilaporkan dan diambil-alih, selain itu, dijelaskan pula mengenai tugas-tugas Ka-BKPM hingga kegiatan FKPM. Buku Manual ini dapat diterapkan pada kegiatan Polmas Babinkamtibmas dan Pospol, buku ini juga cukup dapat dijadikan sebagai referensi bagi Polres lain selain Polres Bekasi.

Berkaitan dengan kegiatan Polmas, Bp. Suzuki, beliau sudah mengunjungi beberapa instansi pendidikan dan Polres-Polres yang aktif melaksanakan kegiatan Polmas, seperti Bekasi. Sekarang ini, lebih dari 100 perwira Polri yang telah mengikuti pelatihan mengenai Polmas di Jepang, sedapat mungkin instansi pendidikan Polri memanggil mereka untuk memberikan ilmu dan pengalaman mengenai Polmas, setelah mengikuti pelatihan di Jepang.

Koordinator Program, Bp. Anzai, menjelaskan mengenai pentingnya bersinergi, tenaga ahli bidang Polmas mendapat informasi dari mitrakerjanya mengenai rencana diadakannya Pelatihan Pelatih Polwan dijajaran Mabes Polri dan Kewilayahan (mereka juga mengunjungi Proyek Bekasi), beberapa peserta pelatihan tersebut (Polda Bali) sangat terkesan dengan Pelatihan sejenis, sehingga mereka mengusulkan untuk mengadakan pelatihan sejenis di Bali. Proyek Bali berpartisipasi pada kegiatan tersebut, dan bersinergi dengan Proyek Bekasi, maka diputuskan untuk mengundang mitrakerja Proyek Bekasi dan anggota FKPM untuk memberikan pengalaman dan pengetahuan mengenai kegiatan Polmas di Bekasi.

Selanjutnya, Program Manager Bp. Takeuchi, menjelaskan mengenai cara memajukan Program. Apakah ada strategi yang cocok untuk menyebarkan hasil kegiatan Program. Patut disayangkan, bahkan internal Mabes Polri pun, kurang menyadari keberadaan Program bantuan ini. Dengan demikian,

  1. Untuk membantu menyebarkan hasil Program, perlu berkoordinasi dengan fungsi Lemdiklat, fungsi Binamitra, fungsi Humas, dll
  2. Hal terpenting terutama, berkaitan dengan masing-masing Polda.

Oleh karena itu, kegiatan pelatihan didalam negeri khususnya di Bekasi dan Bali dapat menjadi lebih efektif dan efeisien. Saya akan menyampaikan 1 peribahasa, “sekali rengkuh, 2-3 pulau terlampaui”, yaitu ketika mengerjakan 1 pekerjaan, pada saat yang bersamaan 2-3 pekerjaan terselesaikan. Jika dapat dilaksanakan strategi kerjasama dengan tiap-tiap bagian di Mabes Polri, maka penyebaran hasil Program dapat dilaksanakan dengan baik. Secara terperinci, hasil dari Pokja akan disimpulkan dalam bentuk naskah, dan akan dikirimkan ke masing-masing anggota Pokja. Dengan begitu maka anggota Pokja yang tidak hadir, dapat membaca hasil Pokja atau, hal ini juga dapat memberikan berbagai macam kesempatan dan referensi untuk memanfaatkan dan menyebarkan hasil kegiatan Program.

Kedua Kapolres Bekasi juga melaporkan hasil perkembangan dan kemajuan Proyek, pada pertemuan kali ini juga dibagikan Jurnal yang berisi mengenai kegiatan Proyek Bekasi yang sedang dilaksanakan. Pada tanggal 29 Februari 2008, bertempat di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Mr. Suzuki (tenaga ahli bid.Penguatan Polmas) memberikan kuliah mengenai Polmas dengan cara seminar kecil (Zemi), yang diikuti mahasiswa setempat. Aturan Zemi adalah, direncanakan akan dilaksanakan sebanyak 10 kali (sejak 29 Feb 2008 – selama 5 bulan), satu kelompok terdiri dari 2 orang, dipilih 2 tema untuk dibahas secara mendalam, untuk kemudian dipresentasikan pada hari yang sudah ditentukan, dan didiskusikan, bertukar pendapat, menelaah dengan seluruh peserta zemi. Pemakalah menjelaskan hasil diskusi, kemudian membuat laporan, setelah itu barulah diserahkan. Direncanakan hasil dari kegiatan zemi ini nantinya akan dikumpulkan dan disusun menjadi sebuah buku yang nantinya akan didistribusikan pada instansi terkait.

Bentuk kelas mini yang disebut “Zemi Suzuki” ini untuk angkatan pertama terdiri dari 8 mahasiswa yang diseleksi dari 180 mahasiswa PTIK. Dikarenakan ini adalah zemi yang pertama, maka diberikan orientasi dan penjelasan oleh Bp. Suzuki mengenai apakah itu zemi, cara kerja zemi, tema yang akan dibahas, dsb.

Pembimbing zemi adalah Bp. Suzuki dan KBP. Ermiadi (anggota ISI), sedangkan peserta zemi ada 8 (delapan) mahasiswa, 1 (satu) Polwan (AKP), 7 (tujuh) Polki (IPTU).

Ada 8 (delapan) tema yang akan dibahas dalam zemi tersebut, yaitu:

  • Pengertian dan tujuan Polmas
  • Substansi kegiatan Polmas
  • Petugas polmas dan tempat kegiatannya
  • Kegiatan FKPM
  • Polmas di berbagai bidang
  • Pimpinan dan pengawasan petugas Polmas
  • Nilai polmas
  • Kendala mengembangkan Polmas.

Tema-tema tersebut nantinya dibahas oleh tiap-tiap kelompok. Setiap minggunya tema-tema tersebut dibahas dalam pertemuan zemi, hasil dari diskusi tersebut akan dibuatkan laporan.

Para peserta zemi sangat menaruh harapan pada kegiatan zemi ini, misalnya “ketika lulus dari PTIK, kami harus menerapkan Polmas di lapangan, tetapi karena baru pertamakali menerapkan kegiatan Polmas, maka dari zemi saya ingin menyerap pengetahuan mengenai Polmas lebih banyak lagi”, “saya ingin memanfaatkan pengetahuan mengenai Polmas untuk diterapkan di Indonesia, misalnya dengan mencari tahu penyebab utama keberhasilan sistem Koban di Jepang”, “saya akan membuat laporan sebisa mungkin sesuai dengan apa yang saya pikirkan”, dsb.

KBP. Ermiady berkomentar bahwa, kegiatan luar jam kuliah, zemi; seperti ini baru pertamakali, saya ingin ada evaluasi berkaitan dengan keefektifan dari bentuk perkuliahan seperti ini. Jika perkuliahan seperti ini dianggap efektif maka ada kemungkinan perubahan kurikulum. Menurut pendapat saya pribadi dukungan dari Bp. Suzuki sangat bermanfaat.

Menurut Bp. Suzuki yang terpenting adalah kesadaran dari masing-masing peserta zemi. Saya hanyalah fasilitator. Dari 10 kali pertemuan, yang terpenting adalah proses penyusunan kesimpulan hasil pertemuan, seandainya tidak ada keharusan untuk menyusun kesimpulan, dikhawatirkan akan percuma pelaksanaan kegiatan ini. Dalam paparan masing-masing kelompok, diharapkan mereka dapat mengembangkan diskusi tersebut sesuai dengan pengalaman mereka masing-masing. Harapan Bp. Suzuki adalah bersama–sama dengan mahasiswa PTIK tetap bersemangat melaksanakan kegiatan zemi ini dengan aktif.

Saya benar-benar menanti dengan penuh minat, terhadap hasil dan perkembangan zemi ini nantinya. Zemi ini akan dilaksanakan sebanyak 10 (sepuluh) kali selama ± 4 bulan.

Pada tanggal 29 Februari 2008, dilaksanakan Pokja Bali yang ke-3. Pada pertemuan kali ini, yang menjadi fokus pembicaraan adalah pergantian tenaga ahli. Kegiatan tersebut dihadiri kira-kira 40 (empat puluh) peserta termasuk anggota pokja inti seperti Dir. Pam Wisata Polda Bali, KBP. Drs. Budiartha (anggota ISI); Karo Renbang Polda Bali, KBP. Kadhiana (anggota ISI), dan Program manager, Mr. Takeuchi Naoto. Topik utama pertemuan tersebut adalah laporan hasil kegiatan counterpart training di Jepang dan tujuan kegiatan Proyek untuk selanjutnya.

Laporan hasil kegiatan pelatihan yang diikuti oleh 5 anggota Polda Bali, diwakili oleh Karo Renbang Polda Bali yang juga pimpinan Pokja, dalam laporan tersebut dipaparkan secara mendetil mengenai pendidikan di sekolah kepolisian Jepang, tugas bag. komunikasi dan komando, kegiatan chuzaisho dan koban, disinggung juga mengenai tujuan Proyek selanjutnya.

Berdasarkan pengalaman Proyek Bali tahap I, pada bulan Agustus 2007 dimulai Proyek Bali tahap II, telah ditetapkan juga anggota Pokja Bali tahap II seperti para pejabat Polda Bali, anggota Polda Bali yang pernah mengikuti pelatihan di Jepang (studi banding, counterpart training). Pokja kali ini adalah Pokja yang dilaksanakan ketiga kalinya, anggota Pokja yang hadir kira-kira 70% lebih, dalam Pokja disampaikan pendapat dan harapan secara aktif dari anggota Pokja yang hadir.

  1. Kunjungan Kapolri ke Jepang

Pada tanggal 17–20 Maret 2008, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Jend. Pol. Drs. Sutanto, mitrakerja (counterpart) tenaga ahli JICA, Bp. Takeuchi, melakukan kunjungan ke Jepang. Dalam kunjungan tersebut Kapolri melakukan berbagai kegiatan seperti kunjungan kehormatan kepada Kepala Badan Nasional Kepolisian Jepang, Mr. Yoshimura; Kepala Komisi Keamanan Nasional, Mr. Izumi; Wakil Presiden JICA Tokyo, Mr. Oshima. Selain itu, Kapolri juga meninjau aktivitas Koban di wilayah Ginza, dan Chuzaisho di wilayah Mitaka, dilanjutkan dengan meninjau kegiatan polisi Jepang di lapangan dan mengunjungi akademi kepolisian Jepang. Mr. Yoshimura menanyakan kesan Bp. Sutanto mengenai Koban. Bp. Sutanto menjelaskan meskipun di wilayah cukup ramai/sibuk tetapi 1 shift cukup hanya terdiri dari 7 polisi saja yang memegang wilayah. Hal tersebut bisa terjadi, salah satu alasan menurut Kapolri adalah adanya komunikasi yang terjalin dengan baik dengan masyarakat setempat. Sambil menerima masukan dari Bp. Takeuchi, saya ingin mengembangkan kegiatan Polisi Sipil yang sesuai dengan ciri khas wilayah masing-masing, dan ingin meningkatkan fungsi FKPM di tingkat Polsek. Saya juga ingin mencari cara untuk dapat bekerjasama dengan masyarakat dalam hal kegiatan pencegahan kejahatan. Terkesan adanya keinginan untuk memperkuat kegiatan polisi sipil.

Pada saat kunjungan kehormatan pada Wakil Presiden JICA Tokyo, Mr. Oshima; Kapolri, menyampaikan rasa terima kasihnya atas bantuan JICA untuk mendukung reformasi Polri. Pada kunjungan tersebut juga disampaikan permintaan pada JICA untuk dapat berperan serta dalam usaha peningkatan Polisi sipil Polri. Oleh karena itu, untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan koordinasi dengan JBIC (Japan Bank for International Cooperation).

Tenaga ahli Bp. Takeuchi, yang mengikuti seluruh kegiatan Kapolri, menjelaskan mengenai kunjungan Kapolri ke Jepang kali ini.

Pada dasarnya kegiatan ini sukses besar. Pada saat Kapolri mengadakan peninjauan, dapat langsung dirasakan kebaikan dari masing-masing pribadi anggota kepolisian Jepang. Kunjungan yang memiliki arti sangat mendalam, menurut saya terlihat adanya permohonan bantuan kepada pihak Jepang dan peningkatan kebijakan. Misalnya, meski tidak semua bangunan Chuzaisho megah, contohnya Chuzaisho Mitaka, walaupun begitu petugas Chuzaisho menunjukan sikap yang baik dengan menjawab pertanyaan yang dilontarkan dengan tepat, oleh karena itu, yang terpenting adalah pembentukan watak anggota polisi. Beberapa Kepala Departemen di Polri juga ikutserta dalam kunjungan tersebut, kesan mereka sangat mendalam. Untuk selanjutnya, hasil kunjungan dari Jepang ini akan dimanfaatkan secara maksimal, berbagai macam bentuk kegiatan kepolisian akan dilanjutkan, kami akan berusaha menindaklanjuti pola yang sudah ada.

Pejabat tinggi Polri yang mendampingi Kapolri dalam kunjungan ke Jepang adalah Kabareskrim Polri, Komjen Pol. Bambang; Kababinkam Polri, Komjen Pol. Iman; Kalemdiklat Polri, Irjen Pol. Edi Sunarno; Ses NCB Interpol Indonesia, Brigjen Pol. Iskandar; Koorspripim, Kombes Pol. Suhardi; Kabid. Hublu Bareskrim Polri, Kombes Pol. Abdul Hakim. Rombongan juga melakukan diskusi dengan Dubes Indonesia di Jepang, Bp. Anwar. Dengan demikian, Kapolri dan para pejabat Polri yang mendampingi Kapolri juga merupakan anggota ISI (Ikatan Sakura Indonesia).

Pelaksanaan Rapat Koordinasi Polmas

Pada tanggal 13 Maret 2008, bertempat di Cisarua Bogor–Jawa Barat, bekerjasama dengan Biro Ortala Derenbang Kapolri diselenggarakan Rapat Koordinasi Polmas (Menyongsong tahun terakhir Renstra tahap I (2005–2009) – pengembangan (BKPM/) FKPM). Latar belakang penyelenggaraan Seminar ini adalah ketika Bp. Takeuchi mengadakan diskusi/tukar pendapat dengan pejabat tinggi Polri mengenai pilar utama reformasi Polri yaitu kegiatan Polmas, Bp. Takeuchi merasakan masih adanya perbedaan pendapat, pemahaman dan kebijakan dari masing-masing instansi Polri, hal ini disebabkan kurangnya koordinasi antar masing-masing instansi, oleh karena itu, diselenggarakanlah Rakor mengenai Polmas yang bekerjasama dengan Biro Organisasi dan Tata Laksana dan instansi terkait.

Acara dibuka oleh ceramah utama oleh Derenbang Kapolri, Irjen Pol. Drs. Tjuk Sugiarso (pendiri ISI) dan Bp. Takeuchi. Setelah itu dilanjutkan paparan dari Karo Ortala Sderenbang Kapolri; Staf Ahli Kapolri, Irjen Pol. Drs. Andi Masmiat dengan tema Manajemen Tim untuk Percepatan Polmas, selain itu, ada juga paparan dari Prof. Hermawan (pembicara tamu). Setelah itu sesi tanya jawab dan diskusi oleh peserta Rakor.

Kegiatan sosialisasi berdasarkan Skep Kapolri No.737 mulai dilaksanakan, Polri merasakan bahwa penting untuk memulai koordinasi sejak dari sekarang, berkaitan dengan keefektifan kegiatan Polmas, maka dengan adanya Rakor ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berkaitan dengan koordinasi sosialisasi kegiatan Polmas. Polri sebelumnya belum pernah melaksanakan Rakor seperti tersebut diatas, atas usaha dari biro organisasi dan tata laksana, program bantuan dari pemerintah Jepang sangat berarti dan dapat dijadikan pertimbangan. Tetapi, pertimbangan yang paling penting adalah pendekatan dari atas/pimpinan, anggota IOM pun cukup terkejut ketika mengetahui permasalahan yang terjadi di lapangan, untuk selanjutnya akan berdiskusi dengan Biro Bimmas untuk menindaklanjuti pelaksanaan Rakor seperti ini, dapat dikatakan berhasil jika memberikan dampak pada masing-masing bidang.

Pelaksanaan In-country Training Course “Pelatihan Polmas”

Pada tanggal 25 – 27 Maret 2008, bertempat di kedua Polres Bekasi, dilaksanakan pelatihan In-country yang diikuti oleh 30 (tiga puluh) anggota Polri, yaitu para Kabag Binamitra seluruh Polres di jajaran Polda Metro Jaya (13 personil) dan staff (13 personil), anggota Biro Binamitra Polda Metro Jaya (2 personil) dan anggota Biro Personil Polda Metro Jaya (2 personil).

Pelatihan diselenggarakan berkaitan dengan percepatan Polmas, Polda Metro Jaya menjadikan para anggota biro Personil Polda metro jaya, anggota biro binamitra polda metro jaya dan anggota Bag. binamitra seluruh Polres di jajaran Polda Metro jaya sebagai fokus dalam upaya mempercepat kegiatan Polmas, namun dalam pelatihan kali ini diundang Kabag binamitra seluruh Polres di jajaran Polda Metro Jaya termasuk staf, dan beberapa anggota polisi yang bertugas di Polda Metrojaya. Bertempat di Proyek Bekasi, mereka mendapatkan penjelasan/pengenalan mengenai Proyek Bekasi yang merupakan proyek dengan kegiatan utama adalah Polmas (Perpolisian masyarakat), mereka juga mendapat kesempatan dan pengetahuan untuk mengikuti kegiatan BKPM (Balai Kemitraan Polisi dan Masyarakat) sebenarnya, dengan harapan kegiatan tersebut dapat meningkatkan kesadaran petugas Polmas di tiap-tiap Polres.

Dalam pelatihan ini juga diadakan demonstrasi teknik pengamanan TKP (tempat kejadian perkara), dalam pelatihan ini diusahakan agar terkesan sebagai kegiatan polisi di lapangan yang sebenarnya. Selain itu, mereka juga mengikuti pelatihan BKPM, mereka turut bertugas di BKPM hingga larut malam, bersamaan dengan pengenalan situasi pelaksanaan kegiatan polisi di lapangan, mereka juga bertukar pendapat dengan petugas BKPM dan anggota FKPM mengenai keinginan dan kehendak masyarakat. Dengan mengetahui secara langsung kegiatan polisi di lapangan diharapkan kegiatan-kegiatan tersebut menjadi pertimbangan dalam mengambil kebijakan.

Hasilnya, dengan adanya pelatihan ini, sangat membantu Proyek Bekasi menyebarluaskan hasil kegiatannya ke daerah-daerah yang lain. Disisi lain, setelah pelaksanaan pelatihan, para tenaga ahli mengadakan evaluasi kegiatan, berkaitan dengan keikutsertaan bertugas di BKPM, anggota Polri yang memiliki pengetahuan yang kurang mengenai kegiatan BKPM dapat melihat kegiatan sebenarnya, mendengar langsung dari petugas BKPM mengenai kegiatannya, hal tersebut sangat efektif. Pelatihan kali ini pun menitikberatkan pada hal tersebut.

Untuk selanjutnya direncanakan, akan diselenggarakan lagi pelatihan serupa yang ditujukan kepada para Kapolsek yang diutus oleh polres-polres yang berada dijajaran Polda Metro Jaya.

Themes By WordPress